Duality of mind

Selasa, 28 Juni 2011

MasoSadie II [fanfic]

title : MasoSadie [Chap 2]
author : shinji ai
rating : M
genre : angst, yaoi, tragedi, romance, bunuh2an, bacok2an, pancung2an,, *apasih??*
fandom : the gazette, alice nine, deluhi
pair : reita X ruki, Aoi X uruha,
song : Living dead, the farthest, GALD [deluhi], 13STAIRS[-]1,Taion [the gazette]

~enjoy~

****

Ruang kamar itu tampak gelap. Tirai yang menutupi jendelanya menghalangi sinar matahari untuk masuk. Laki laki berambut pirang itu duduk di lantai kamarnya tanpa alas. Ia menyandarkan tubuhnya pada sisi tempat tidurnya. Kepalanya menengadah ke atas, matanya terpejam rapat dan sesekali hanya tampak putih bola matanya.

            Ia menikmati tiap detik dari rasa sakit yang menjalar rata di tiap luka, di tubuhnya. Ia menggoreskan silet di sepanjang tangan kirinya. Terus dan terus hingga kulit putihnya hampir tak terlihat,karena tertutup darah yang mengalir. Semakin lama, semakin dalam silet itu ia tancapkan menembus kulitnya. Rasa nikmat sekaligus perih itu masih tak cukup baginya, kini tangannya mulai menggoreskan silet itu dada putihnya yang tak tertutup selembar benang pun. Tetesan merah dan pekat perlahan mengalir dari dadanya. Semakin deras darah yang menetes, Ia semakin memejamkan matanya, menikmatinya. Ia terus menggoreskan benda tipis dan tajam itu, hingga dada putihnya kini menyatu indah dengan warna darahnya.

            Perlahan pandangan matanya mulai kabur. Ia mulai kehilangan cahaya dari matanya, akibat banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya. Ia merasa sesuatu yang berat menggelayuti kelopak matanya. Pelan-pelan matanya mulai terpejam. namun sebelum ia menutup matanya dengan sempurna, matanya sempat menangkap sosok bayangan laki-laki menopang tubuhnya yang mulai ambruk kehilangan kesadaran.

^^^^^

Pintu yang tiba-tiba dibuka dengan kasar, membuyarkan dua orang yang sedang bercumbu di balik sebuah meja kerja. Mata Shiroyama yuu aka Aoi, menatap seseorang yang baru saja masuk diruangannya itu dengan tatapan ingin membunuh.
“brengsek kau!! Ingin kupecahkan kepalamu itu hah??!!”

“kau yang brengsek!! Di mana Ruki??!!” Reita mengepalkan tangannya erat-erat. Tanpa harus dipecahkan oleh Aoi, kepalanya memang terasa akan pecah. Rasa takut, khawatir dan cemas begitu menyesaki pikirannya.

“apa maksudmu? Ruki? Mana aku tahu, aku tak ada urusan dengannya!!” Keduanya saling bertatapan tegang.

“hei.hei..tunggu, tenanglah sedikit. Masalahnya tak akan jelas jika kalian emosi seperti ini.” Uruha, Laki-laki berparas cantik dengan mata indah  itu berusaha menenangkan kekasih dan sahabatnya yang sedang berseteru.

Reita mengambil nafasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya yang terlalu kalut dengan hilangnya Ruki. Lagipula jika benar Ruki ada di tangan Aoi, ia harus berhati-hati dan lebih menjaga sikapnya. “Ruki tak ada di apatonya, kupikir kau yang—“

“menculiknya?” Aoi buru-buru memotong kalimat Reita. “untuk apa aku melakukannya? Kau harusnya berpikir dengan otakmu,bodoh!! Kau sudah kuperingatkan, tapi kau tak pernah mendengarkan aku..”

Reita menunduk dalam-dalam, dan mengepalkan tangannya lebih erat. Berbagai macam pikiran semakin menyesaki ruang-ruang kosong dalam pikirannya. Aoi benar, ia merasa sangat bodoh. Jika terjadi sesuatu pada Ruki, ia pasti tak akan memaafkan dirinya sendiri. Hal yang harusnya dilakukan sejak dulu, justru tak dilakukannya dan sekarang berakibat fatal. Beberapa saat kemudian, Kai dan Juri masuk ke ruangan itu.

“Reita, kau kenapa?” sapaan Juri membuyarkan lamunan Reita. Kai tampak tersenyum, seolah-olah ia tahu apa yang ada dalam pikiran sahabat lamanya itu.

“sebaiknya, kau ikut dengan Kai, dan Juri. Mungkin kekasihmu itu ada disana.”

Kata–kata Aoi membuat Reita secara reflek mengarahkan pandangannya pada sosok berpiercing itu. “Disana,Di mana maksudmu? Bagaimana kau bisa tahu? Memang apa yang akan Kai dan Juri lakukan?”

“kau masih saja bodoh, sudahlah jangan banyak bicara. Kau ikut saja dengan Kai dan Juri. Percayalah, kau pasti menemukan kekasihmu yang tak normal itu disana.”

“jaga bicaramu Aoi, jangan paksa aku untuk menghabisimu.”

Aoi tersenyum sinis, menanggapi gertakan Reita. “Lakukan saja jika kau mampu!” ekor matanya kemudian mengikuti bayangan Reita, Kai, dan Juri yang meninggalkan ruangannya hingga hilang diambang pintu.

^^^^

Kai sesekali mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh area dermaga tua yang sudah tak terpakai lagi. Memperhatikan dengan detail tiap sudut-sudutnya, dan memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi besok. Setelah itu ia kembali memfokuskan matanya pada layar ponselnya. Sementara Reita di sampingnya terlihat semakin cemas.

“mana mungkin ada Ruki disini, kau ingin mempermainkan aku, heh?!”

“tenanglah Rei, sebentar lagi aku selesai. Hanya tinggal menunggu Juri kembali.”

Reita yang sudah kehilangan kesabaran, menarik kerah baju Kai dengan kasar. “kau!! Kau tidak mengerti bagaimana perasaanku??!! Aku harus segera mencari Ruki!! Kau paham kan, brengsek!!”

Sementara Kai tetap tenang dengan perlakuan Reita. “oh..jadi kau punya perasaan juga rupanya?” Ia tersenyum, dan dengan lembut ia melepaskan tangan Reita dari kerah bajunya. “aku mengerti bagaimana perasaanmu Rei, kau tahu bagaimana Meev mati di depan mataku waktu itu, kan?”

"tugasku kali ini hanya menyiapkan tempat untuk transaksi besar kita besok, lalu aku meminta Aoi untuk mengizinkanku mencari Ruki setelah tugasku selesai. Tora tahu, jika salah satu anak buahnya kau culik dan tak kembali hingga hari ini, oleh karena itu ia mengincar Ruki."

Pandangan mata Reita yang semula nanar dan penuh ambisi mulai melunak setelah mendengar kata-kata Kai. Dari kejauhan Juri tampak berlari-lari dari arah pantai. Ia telah selesai menyiapkan speed boad untuk berjaga-jaga jika rencana transaksi besok akan gagal. Ia mengatur nafasnya yang berantakan, setelah sampai di hadapan Kai dan Reita yang menunggunya.

“maaf ya, kalian menunggu lama..” Juri membungkuk, masih mengatur nafasnya yang tersengal “ayo, aku tunjukan dimana tempat Ruki, tak jauh darisini..”

Setelah berjalan beberapa ratus meter dari dermaga pantai, mereka sampai disebuah bangunan yang tampak seperti rumah. Namun bangunan itu tampak gelap, seperti tak berpenghuni. Saat akan melangkah masuk, Kai menahan Juri.
“kau tunggu disini saja, jika dalam waktu 1 jam kami tak kembali, kau panggil bantuan.”
Setelah memberikan FN five-seven miliknya kepada Juri, Ia dan Reita bergegas masuk kedalam bangunan.

Mereka memasuki ruangan yang minim cahaya itu. Setelah beberapa saat, mata mereka akhirnya bisa menyesuaikan diri dalam gelap. Dalam bangunan itu tersedia beberapa ruang-ruang kosong. Dari lantai bawah, tampak sebuah ruangan di sudut kanan yang terletak di lantai dua. Ruangan itu bercahaya sendiri, menandakan kemungkinan ada beberapa orang disana.

Dengan langkah cekatan dan nyaris tanpa suara mereka mendekati ruangan itu. Sebelum memasuki ruangan itu, mereka menyiapkan senjata mereka masing-masing, Reita dengan Baretta 92’nya, dan Kai dengan FN five-seven, sama dengan yang ia berikan kepada Juri.


Setelah melihat aba-aba dari Kai, Reita segera menendang pintu ruangan itu sekuat tenaganya. Tak sulit, membuat pintu itu rusak dalam sekali tendangan. Dua peluru Baretta 92 miliknya, segera bersarang tepat di dada salah seorang yang berdiri di sudut ruangan. Peluru selanjutnya mendarat tepat di perut seorang yang lain, yang berdiri di samping ranjang.

Kini mata Reita tertuju pada sosok berambut pirang di atas ranjang yang penuh dengan luka sayatan di sekujur tubuhnya. Ia menatapnya dengan pandangan yang menusuk, seolah merendahkan.  Matanya kini beralih pada dua orang lain yang terluka, dan sedang meringis kesakitan.

“hei, rei.. mau apa kau?” Kai menangkap gelagat aneh dari ekspresi wajah Reita yang tiba-tiba berubah mengerikan
.
“aku mau bermain-main sebentar..”

“tapi bukannya kau—“

“kau urus saja dia!! Dan jangan bantah aku!!” telunjuk Reita menunjuk ke arah Ruki yang kini terduduk menatapnya dengan sebuah harapan. Kai hanya menggelengkan kepalanya, lalu ia menghampiri Ruki dan memberikannya baju -yang entah milik siapa- berserakan di bawah.

“pakailah ini. Setelah ini—“

“aarrrgghhh!!! Ittai!!! Hentikan..aahhh...” jeritan memilukan terdengar dari seseorang yang sedang meringkuk di sudut ruangan itu. Kai memicingkan matanya, ia melihat Reita menahan kedua tangan orang itu dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya yang memegang sebuah pisau kecil, sedang berusaha mencungkil keluar peluru yang tertanam di perut seseorang yang kini tengah menjerit-jerit. Tak hanya itu, ia juga menyayat leher laki-laki malang itu, hingga hampir separuh wajahnya basah oleh darah.

“Rei, apa yang kau lakukan?? Bunuh saja jika kau mau..” Kai tercekat melihat dan mendengar pemandangan di hadapannya saat ini. Walaupun ia sendiri terbiasa membunuh orang dengan macam-macam cara, namun ia lebih suka membunuhnya langsung tanpa menyiksanya.

Reita tak menjawab, hanya terlihat senyum seringai dari wajahnya. Ia kembali meneruskan permainannya, merobek lebih lebar kulit yang sudah berlubang karena pelurunya itu.

“hhh...jauhkan pisaumu dari hiroto, bajingan!! Ahh..”

Kai menghantam kepala seseorang yang baru saja memaki Reita, dengan sebuah botol Wine. Seseorang yang ia kenali bernama, Saga itu sukses tak sadarkan diri dengan darah yang membasahi sebagian rambutnya.

“Reita, sudah hentikan! Sebaiknya kau mengejar Ruki. Ia baru saja berlari keluar..”

*****

I'm satisfied with my grief for love…
Therefore i grieve for pleasure
~ Ruki Pov ~

suara deburan ombak itu mewakili perasaanku, yang ingin berteriak. Tatapan itu, tatapan yang paling aku benci. Seseorang yang sangat aku cintai,justru  menatapku dengan seperti itu. Ia mungkin sudah jijik padaku, tubuhku sudah kotor, aku hina, dan tak pantas bersamanya. hingga ia mengacuhkan dan memandangku rendah seperti itu.  Aku hancur untuk yang kesekian kalinya.

aku duduk bersimpuh, menghadap ke arah laut lepas. membiarkan ombak-ombak merambati sebagian tubuhku. perih sekali rasanya, saat air laut menyentuh kulitku yang masih terluka. tapi aku sudah terbiasa, dengan rasa seperih apapun dan sesakit apapun.

aku puas dengan kesedihanku untuk cinta, karena itu aku bersedih untuk kesenangan. sekarang aku hanya ingin mencari kebebasanku. aku mengeluarkan beberapa pecahan botol wine tadi, yang kusimpan dalam saku. kugenggam erat-erat hingga merobek telapak tanganku. darahku mulai menetes jatuh, dan menyatu dengan air laut yang segera menyeretnya ke tengah lautan.  seulas senyum terukir di wajahku yang kacau. kemudian aku menusukan dalam-dalam pecahan kaca ke dalam tangan kiriku, lalu menariknya perlahan-lahan hingga merobek kulitku, dan memutus aliran darah di nadiku.

mataku mulai melihat kegelapan abadi. mungkin setelah ini, aku akan merindukan bagaimana rasa sakit dan perih yang biasa menenggelamkan aku dalam kenikmatan.


~ to be continu~
dont be a silent rider.. koment dan kritik dibutuhkan.. ^^
arigato gozaimasu~~ :D







Rabu, 22 Juni 2011

MasoSadie Chap 1 -Prologue- [fanfic]


title : MasoSadie Chap 1 -Prologue- 
author : shinji ai 
rating : M
genre : angst, yaoi, little semut(?), tragedi, romance, bunuh2an, bacok2an, pancung2an,, *apasih??*
fandom : the gazette, screw, dan yang lain akan muncul ^^
pair : reituki ^^
disclaimer : para fandom milik Allah SWT, dan emaknya masing2.. XD
tapi ceritanya, MURNI milik saya.. ^^a izin klo mau repost..
NB: alur berantakan xd, typo, dan sedikit sentuhan kekejaman author.. A_A *tawa demit*
~enjoy~

~~~~~~

Aku menatap nanar ke arah tubuhmu yang terbaring lemah di bawah kakiku. Ahh, kau begitu mempesona di mataku. Kau sangat indah, dengan darah yang mengalir dari sayatan-sayatan kecil yang ku buat di seluruh tubuhmu. Dibawah tetesan shower yang menghujanimu dengan air dingin, kau meringkuk menahan sakit dan dingin. Paduan antara air dan darah yang mengalir melintasi tubuh basahmu mengalahkan indahnya pelangi setelah hujan. Kau semakin membuatku menginginkanmu. Aku berlutut tepat didepanmu yang terlihat sudah kepayahan, bahkan untuk mengambil satu tarikan nafas. Kutarik bajumu, hingga kini kau terduduk dan sejajar denganku. Kuraih dagumu dengan kasar, lalu dengan liar ku hisap dan kunikmati bibirmu yang sedikit terbuka, ku paksa masuk lidahku untuk dapat menjelajahi ruang dalam mulutmu. Aku memainkan lidahmu yang hangat dan lunak di dalam sana. Tapi kau tak meresponnya, hanya suara eranganmu yang terdengar tertahan karena bibir kita yang telah menyatu. Entah itu erangan sakit atau kau memang sedang menikmati apa yang aku lakukan. Apapun itu ku tak peduli, yang aku tahu saat ini aku hanya mencari kepuasan darimu. Kepuasan menyakitimu dan menikmatimu sampai dahaga liarku ini terpenuhi.
Mungkin kau bertanya-tanya, kenapa aku melakukan ini padamu? Kau ingin tahu? Itu karena kau…

 ~~~~

-flash back- 
Aku menghisap dalam-dalam sebatang rokok kini tersisa separuh di sela-sela jariku. Banyak orang yang tampak lalu lalang di hadapanku. Mereka masuk ke dalam sebuah Klub malam terbesar di kota ini, biasanya yang mereka yang keluar darisana selalu membawa pasangan. Yah, kau pasti mengerti maksudku. Aku tak ada kegiatan lain, selain memperhatikan mereka semua yang melintas di hadapanku. Sekaligus untuk berjaga-jaga, jika salah satu di antara mereka ada petugas polisi yang menyamar dan menggagalkan tugasku kali ini. tak lama berselang seseorang yang aku tunggu akhirnya kembali. Dari kejauhan ia tampak ersenyum pada seseorang. Kutegaskan pandanganku untuk melihat kepada siapa ia tersenyum. Setelah melambaikan tangannya, laki-laki itu berjalan semakin dekat ke arahku. Dengan sembunyi-sembunyi ia menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat padaku. Ia melakukannya sehalus mungkin, agar tak ada yang menyadari apa yang kami lakukan. Setelah menerima amplop coklat itu aku segera memasukannya ke dalam saku jas hitam yang sedang kukenakan sekarang.

Aku masih penasaran, dengan siapa tadi ia tersenyum. “apa dia temanmu?” aku bertanya padanya tanpa basa-basi. Ia tersenyum kecil menunjukan lesung pipinya, sebelum menjawab pertanyaanku.

“bukan rei, dia hanya mencoba menyapaku.”

“ck, kau ini. jangan terlalu ramah pada orang lain. Kau harus ingat pekerjaan kita, bukan pekerjaan mudah yang mengharuskan diri untuk ramah pada semua orang.” Lagi-lagi ia tersenyum padaku. Aku tak mengerti bagaimana orang yang tampak manis dihadapanku ini bisa terlihat seramah ini. siapa yang tahu kalau dia sebenarnya adalah seorang pembunuh bayaran kebanggan shiroyama yuu, pimpinan gangster kami sekaligus atasanku.
Tadi kubilang ia manis,hm.. ya ia memang cukup manis. Tapi bagiku tak ada yang lebih manis dari ruki. Ruki kekasihku yang sangat aku cintai.

“aku sudah menyampaikan pesanmu kepada byou, ia sudah menunggumu di tempat itu. Tapi sebenarnya kau ada perlu apa dengannya?” mata kai menyipit, ia tampak menunggu jawabanku.

“bukan urusanmu..” aku berlalu meninggalkannya sendiri. Sudah bisa kutebak, setelah ini ia pasti masuk ke dalam club itu dan membawa pulang satu atau dua wanita ke apatonya. Dia memang menarik, tidak seperti aku yang –menurut pandangan orang− dingin.  Lagipula itu bukan urusanku. Selama ia tak menyentuh ruki, aku tak akan peduli dengan apa yang ia lakukan, berapapun wanita yang akan ia bawa pulang, atau apalah.

~~~

Sepanjang perjalanan dari tempat aku bertemu dengannya, sampai kini tiba di apartemenku, aku tak berbicara sepatah kata pun. Kulihat Byou sudah lelah bertanya padaku yang terus membisu bagai patung. Ia pun turut diam pada akhirnya. Setelah aku membuka pintu apartemenku, byou masuk begitu saja tanpa menunggu aku sebagai pemilik rumah. Kulihat ia masuk ke dalam ruang kamar mandiku. Seulas senyum tipis mengembang di sudut bibirku. Setelah mengunci pintu, aku segera menyusulnya.

Byou tampak kaget ketika melihat bayangan diriku di cermin dalam kamar mandi. Ia segera menoleh, dan mengulang pertanyaannya yang sejak tadi tak kujawab.

“sebenarnya kau ada perlu apa denganku, rei?” kali ini aku memperlihatkan senyumku yang lebih mirip sebuah seringai padanya. Aku menunjuk ke arah cermin di hadapan byou.

“kau lihat cermin itu?”

“ada apa?” byou hanya menatap bingung pada pantulan dirinya dalam cermin.

Perlahan aku mendekatinya, memperpendek jarak antara bibirku dengan telinganya, dan membisikan sesuatu disana. “tidakkah kau melihatnya? kau tampak menjijikan byou!!!”

Sekilas mata byou menunjukan sebuah kilat. Sebelum ia sempat membalikan tubuhnya, aku mendorong kepala byou dari arah belakang hingga membentur cermin itu dan hancur berantakan. Sebuah cairan  pekat berwarna merah mengalir dari kepala byou, dan pelipisnya. Saat itu, aku seperti mendapat suatu kepuasan tersendiri. Kepuasan saat melihat wajahnya yang kini sedang meringis menahan sakit tepat di depan kakiku.

“aa…aahh..reita..apa..yang kau..hhh..” ia meringis di kakiku, memegangi kepalanya yang mungkin terasa sangat sakit, atau mungkin ia berusaha  menghentikan aliran darah yang terus melesak keluar dari sayatan dan luka-luka kecil di kepalanya. Aku tertawa ringan melihatnya seperti itu.

“kau tahu apa yang membuatmu tampak menjijikan di mataku? Karena kau telah berusaha menyentuh ruki… kau tahu kan, ruki hanya milikku!! Kau dengar byou??!! Ruki milikku!!”

Aku tak merasa puas dengan hanya melihatnya terluka seperti itu. Beberapa pecahan cermin yang berserakan ku ambil. Aku membuat sayatan-sayatan ditubuh byou dengan pecahan cermin itu. Meloloskan lebih banyak darah dari tubuh byou untuk keluar. Erangan dan rintihannya dalam sakit terdengar seperti lantunan lagu yang indah di telingaku. Aku terus melukis tubuhnya sesukaku sampai aku puas.

-flash back end-

~~~~

Bayangan saat byou berusaha menyentuh ruki kembali menyeruak dalam pikiranku. Aku segera melepaskan lidahku dan lidahnya yang entah sejak kapan saling bertaut.  Aku merasa sangat jijik dengan apa yang aku lakukan. Aku gelap mata seketika itu juga. Dengan keras, aku menghantam kepala byou untuk kedua kalinya hingga ia tak sadarkan diri. Kali ini ia benar-benar tak sadarkan diri. Mungkin sudah kehabisan tenaga, atau mungkin juga sudah mati. Aku tak peduli.

Aku meninggalkan tubuh byou yang sudah sama sekali tak bergerak di dalam sana. Aku bergegas merapikan pakaianku dan segera menyambar kunci mobilku. Ruki, aku ingin bertemu dengannya. Laki-laki yang sangat berharga bagiku. Aku tak sengaja bertemu dengannya kembali beberapa bulan lalu. Ia adalah kebahagiaanku, satu-satunya alasan yang membuatku bertahan dalam kehidupan yang seperi ini. aku sangat menjaganya, menjaga malaikat hatiku.
Saat ini aku benar-benar khawatir. Aku tak rela ia terluka sedikitpun, aku tak rela ia mengeluarkan air matanya walau hanya setetes. Terdengar berlebihan memang,tapi itulah kenyataanya. Hal yang paling aku khawatirkan justru datang dari dirinya sendiri. Dirinya yang membuatku membenci dan mencintainya sekaligus. Ia seorang Masochist…

~~~

To be continu...

bacot: fic dengan tema terberat [menurut saya] yang pernah saya buat. 
saya apdet chap 2 kapan-kapan ya.. XDa *disambitin kolor bishie*
satu lagi..satu lagi.. I hate silent reader.. xd
berikan saya komen yg membangun.. ^^
domo arigato~

Minggu, 12 Juni 2011

Versailles HIZAKI - Prayer


Prayer, is an instrumental song from hizaki, a gutarist from versailles.
this song is dedicated for tsunami and earthquake disaster in Japan. 

at the first time I heard this song.. I cant say anything.. suddenly I was crying...
it's really touching. make me down a while, and then i feel a hope at the end of this song..
really awesome... I really feel what [maybe] hizaki sama feel when he made this song..
sadness and feel hope at the end..

this song, show how a music can be a universal language... 

he expressed his feeling with his way, and I can feel that.. really awesome.. 

one song who made me cry, although just an instrumental music.. 





                                                   
2011年3月11日、日本を襲った「東北地方太平洋沖地震」。
人間の想像を遥かに超えた被害をもたらし、多くの命が失われ、今も苦しんでる人は沢山います。
アーティストとして、一人の人間として想いを曲に込めました。

日本中、世界中の祈りを一つに。
みんなの小さな行動が明日への希望に繋がる。
震災に見舞われた方へのエネルギーになるように。
そして、震災でお亡くなりになられた魂へと。

小さな力だけど、少しでも誰かの為に、癒しになれればと思います。

2011年4月1日 Versailles HIZAKIより

*******

On March 11th 2011, the pacific coast of Tohoku was struck by an earthquake and tsunami.
It was the damage done was far beyond our imagination and has taken the lives of countless people, with many missing persons still unaccounted for.
As an artist and as a person, I have composed music from my soul that I wish to dedicate to the people affected by the events above.

A prayer made by those across Japan and the world Hope for tomorrow by your actions will be made Energy to those who suffer All souls taken by the disaster

This is what I can do. I hope my music can touch and heal your souls I am praying for you....

April 1st 2011 From: Versailles HIZAKI

******
Pada maret 2011, pantai pasifik dari Tohoku dilanda gempa dan tsunami. Ini mengakibatkan kerusakan yang jauh di luar bayangan kita dan telah mengam,bil kehidupan banyak orang, dengan banyak orang hilang masih belum ditemukan.
saya sebagai seorang seniman, dan sebagai seorang pribadi, saya telah menyusun musik dari jiwa saya, dan saya ingin mendedikasikan kepada orang-orang yang terkena dampak dari bencana diatas.

sebuah doa yang dibuat oleh orang-orang diseluruh jepang dan harapan dunia untuk esok oleh tindakan anda, akan menjadi kekuatan untuk mereka yang menderita. semua jiwa yang diambil oleh bencana.

ini adalah apa yang saya lakukan, saya berharap musik saya dapat menyentuh dan menyembuhkan jiwa anda. saya berdoa untuk anda...

1 April 2011,
Dari : HIZAKI Versailles
******
u did it hizaki sama.. you was touching my heart, I and sure everyone who heard this song.. 
 

NB: sory for bad english.. m(_ _)m 

Thx to : youtube.com